Jumat, 22 Juni 2012

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT - sebuah perenungan

Tulisan lama …tapi penuh inspirasi….mungkin sudah ada yang pernah membaca…lupa dari millis man...

Subject: Mampukah kita mencintai tanpa syarat

Ini adalah sebuah cerita nyata,yang disampaikan oleh Bapak Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri reksadana di Indonesia… Apa yang diutarakan beliau adalah benar sekali. Buat para suami atau calaon suami serta istri & calon isteri.

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT - sebuah  perenungan

Dilihat dari usia beliau sudah tidak muda lagi, usia yang  sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sedang sakit, istrinya yang juga sudah tua

Mereka menikah sudah lebih dari 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga siang hari dia dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib  dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa  saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat  tidur.

Rutinitas ini  dilakukan Pak Suyatno lebih kurang selama 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil  membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk Ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan Ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu … semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata "Pak, kami ingin sekali merawat Ibu. Semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak, bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu". dengan air mata berlinang anak itu  melanjutkan kata-katanya "Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa  Ibupun akan mengijinkannya, kapan Bapak  menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak,  kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baiknya  secara bergantian ..."

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya "Anak-anakku … Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah …  tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian ...“ sejenak  kerongkongannya tersekat  “… kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian  menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak  bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih  sakit?”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh  dipelupuk mata Ibu Suyatno … dengan  pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya  itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi  nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan  kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yg sudah tidak  bisa apa-apa. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru ketika Pak Suyatno  berkata "Jika manusia  didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam  perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi  waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah  kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya  dengan segenap hati dan batinnya, bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu..... Sekarang dia sakit karena berkorban  untuk cinta kami bersama … dan itu  merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat  memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar